Masing-masing ras mesti menggunakan bahasa rasial (akar)-nya sendiri, yang mesti ia gunakan, pelajari, budidayakan, dan perbaiki untuk digunakan oleh rasnya sendiri, dengan begitu memperbaiki rasnya sendiri sebagai sebuah ras dan tidak semestinya berupaya menggunakan bahasa ras-ras lain.
Sekitar 25 tahun lalu, pada suatu Minggu pagi di musim panas, kapal feri yang menyeberangi Delaware River dari Philadelphia, Pa., ke Camden, N. J., dipenuhi dengan pria-pria, wanita-wanita, dan anak-anak Arya yang bertamasya ke pedesaan. Mereka berpakaian bagus dan bersih, menunjukkan penampilan sehat yang begitu lazim pada kaum pekerja Arya periode itu di kota Quaker tersebut.
Di satu sisi perahu duduk seorang Negro berdarah murni, dengan kulit paling gelap di antara banyak corak warna hitam. Di sampingnya duduk seorang wanita Arya, isterinya, di bawah undang-undang buatan Arya. Wanita itu tipe cantik Irlandia (Arya), barangkali keturunan dari leluhur Skandinavia-Celtik dari masa pendirian dan kolonisasi Dublin oleh orang Denmark. Corak kulitnya seterang lili, mata biru dan roman klasik, rambut halus cokelat sangat terang, salah satu tipe sempurna dari ras umat manusia paling akhir, paling tinggi, paling mulia. Di samping wanita itu duduk saudarinya, seorang gadis Arya berumur 16-an, yang sedang mengasuh anak mulatto kakaknya, berusia kira-kira satu tahun. Ada pula dua anak lain, produk-produk mongrel/bastar dari miskegenasi ini, masing-masing berumur sekitar 3 dan 5 tahun, warna kulit mereka mulatto terang hingga sangat gelap; rambut mereka hitam dan keriting, cenderung setengah-lurus.
Di sisi lain perahu duduk seorang mongrel (setengah peranakan) Negro berwarna kulit sawo matang, dengan roman Semitik. Bersamanya ada pula seorang wanita Arya, isteri sahnya, bertipe brunet Arya dengan roman Anglo-Saxon dan mata kelabu jernih. Bersama mereka ada seorang gadis mulatto, adik perempuan si Negro. Ada dua anak kecil, yang satu berumur setahun dan yang satu lagi tiga tahun, keturunan dari hubungan tak alami ini. Yang satu bercorak kulit kuning terang dengan rambut hitam kasar, cenderung keriting; yang satu berwarna lebih gelap, berambut hitam keriting, dengan roman Negro tegas; yang ini terutama berbiak dari leluhur paternalnya.
Mengamati situasi tak manusiawi ini, pikiran penulis terkenang kepada pidato Tn. Lincoln kepada delegasi Negro, yang dirujuk dalam buku ini, mengenai persoalan ras-ras di negara Arya ini. Kejantanan rasial penulis langsung mendorongnya untuk memutuskan mencurahkan minimal setengah waktu luangnya untuk berusaha mengembalikan pemikiran dan keinginan Tn. Lincoln kepada kaum Arya di tanah indah ini.
Mengangkat persoalan ras, investigasinya hanya berkenaan dengan Negro; tapi seiring berjalannya penyelidikan, itu berkembang menjadi persoalan ras yang umum yang meliputi bukan hanya ras Negro tapi juga dua ras lain, ras Mongolia/Mongoloid dan ras Semitik. Pada awal studi subjek ini, Negro adalah ras asing utama di negara ini; tapi perubahan Konstitusi di bawah kondisi yang merugikan pasca Perang Sipil memasukkan ke negara Arya ini, sejak permulaan studi ini, lebih dari 5 juta ras Semitik dan Mongolia, yang didatangkan oleh populasi asing kepada orang-orang Arya negara ini dalam bentuknya yang paling mengancam, sebuah persoalan ras umum, yang menyebabkan mereka harus segera menghadapi pemecahan persoalan Negro dan juga Mongolia dan Semitik.
Jadi, selain memiliki negro-negro beristeri Arya, negeri ini kini memiliki orang-orang Mongolia, yakni orang Jepang, China, Indian, Meksiko, Hongaria (Magyar), Turki, India, dll, beristeri Arya, dan orang-orang Semitik dari semua ragam cabang—sebagaimana ditunjukkan dalam “Semitik di AS” dalam Bab 1 volume ini—beristeri Arya; miskegenasi yang menghasilkan mongrel sebanyak ratusan ribu setiap tahun; Negroisasi, Mongolisasi, dan Semitisasi, (Mongrelisasi) yang sedang memongrelisasi ras Arya di AS dengan cepat, dan juga ketiga ras ini dengan semua ragam cabang mereka menggunakan nama-nama Arya dan secara tak wajar mencoba menggunakan bahasa-bahasa Arya. Penulis sudah menggunting lebih dari 100.000 kliping suratkabar yang menyajikan tindakan dan perbuatan orang-orang Negro, Mongolia, dan Semitik; yang semakin menunjukkan bagaimana orang-orang Arya membebani diri mereka sendiri dengan harta-benda mereka untuk ketiga ras asing yang kini berada di negara ini, dan bagaimana para pembaca Arya harus pasrah membaca hal tersebut dalam koran-koran mereka.
Memahami fakta bahwa sebuah kaum, dalam rangka melakukan reformasi-reformasi internal, khususnya persoalan politik, harus memiliki pemerintahan di atas landasan ekonomi, industri, dan finansial yang kokoh, maka volume karya ini dicurahkan sebagian besar pada persoalan ekonomi dengan maksud menempatkan Pemerintah dalam posisi agar orang-orang Arya negara ini menjalankan tugas besar yang kini mereka hadapi sebagai sebuah ras dan sebagai manusia. Karya ini juga memberi garisbesar empat ras dunia dan status mereka di AS, dengan beberapa usulan kepada Kongres untuk tindakan pendahuluan.
Volume kedua, sebuah volume panjang, akan mendiskusikan secara komprehensif dan detil situasi rasial di AS, Eropa Arya, dan negara-negara Arya lainnya di dunia; efek persentuhan tak pandang bulu dengan ras-ras lain di negara-negara Arya terhadap peradaban Arya; upaya tak alami, tak manusiawi, kejam, amoral, tak dapat dilaksanakan, dan mustahil, berupa penyatuan ras-ras; dan keperluan penyatuan cabang-cabang ras Arya, dalam rangka memastikan penempatan ras-ras berlainan secara sepatutnya di zona-zona alami dan peradaban-peradaban mereka sendiri. Dan juga solusi untuk kondisi tak alami ini yang kini eksis di AS, yang sedang mengancam menggulingkan peradaban Arya di negara ini, yang, jika terwujud, akan juga menghancurkan peradaban Arya Eropa, sebagaimana peradaban Arya digulingkan di Hindustan, Afghanistan, Persia, Armenia, Asia Kecil, dan Eropa Selatan, sehingga memperlambat peradaban dunia, yang sepenuhnya bergantung pada kemurnian ras Arya.
Beberapa Usulan Mengenai Hukum Alam
ARYAN, dilafalkan ār’yan, ar’i-an, atau ar’ian.
Ras yang organ-organ pencernaannya mengekstrak bahan-bahan kimia dari makanan untuk pigmen yang menghasilkan kulit kemerahan atau terang, mata biru, kelabu, atau cokelat, rambut halus lembut terang atau gelap (bukan hitam).
SEMITIK, dilafalkan sem-it’ik.
Ras yang organ-organ pencernaannya mengekstrak bahan-bahan kimia dari makanan untuk pigmen yang menghasilkan kulit kehitaman atau gelap, mata hitam, dan rambut hitam ikal, seringkali keriting kencang.
MONGOLIA, dilafalkan mon-gō’li-a.
Ras yang organ-organ pencernaannya mengekstrak bahan-bahan kimia dari makanan untuk pigmen yang menghasilkan kulit kuning, cokelat kekuningan, atau cokelat kemerahan, mata hitam, dan rambut hitam, kasar, lurus.
NEGRO, dilafalkan ne’grō atau ni’grō.
Ras yang organ-organ pencernaannya mengesktrak bahan-bahan kimia dari makanan untuk pigmen yang menghasilkan kulit hitam dan corak-corak hitam, mata hitam, dan rambut hitam, wol, atau kusut.
Ketika dipangkas pendek, rambut tidak memperlihatkan sifat ikal, keriting, atau kusutnya seperti ketika dibiarkan tumbuh panjang.
Dua ular merayap di gunung-gunung dan ladang-ladang memakan jenis makanan yang sama persis, misalnya, tikus, burung, reptil kecil, dll; organ-organ pencernaan ular yang satu (ular derik) mengekstrak bahan kimia beracun dari makanan.
Kuda, sapi, dan domba memakan jenis rumput yang sama; organ pencernaan masing-masing mengambil bahan kimia dari rerumputan untuk warna dan sifat rambut dan matanya, dan minyak atau lemak yang mengandung bau mereka, sehingga memberi citarasa daging sapi kepada sapi, citarasa daging domba lezat kepada domba; kuda juga mendapatkan bau khasnya.
Organ pencernaan semua hewan mengambil bahan kimia dari jenis makanan yang sama untuk warnanya sendiri, dll.
Hal yang sama berlaku pada umat manusia: “Perut menghasilkan manusia”; itu juga menghasilkan ras, memberi setiap ras warna kulit dan mata khasnya sendiri, dan warna dan sifat rambut, selain bau khasnya sendiri, karena tubuh keempat ras memiliki baunya sendiri-sendiri.
Jadi, adalah sebuah pelanggaran terhadap hukum alam jika ras kemerahan atau terang bersentuhan dengan ras kehitaman atau gelap; jika ras kehitaman atau gelap bersentuhan dengan ras kuning, cokelat kekuningan, atau cokelat kemerahan; dan jika ras kuning, cokelat kekuningan, atau cokelat kemerahan bersentuhan dengan ras hitam; tapi setiap ras semestinya bersentuhan hanya dengan rasnya sendiri, dalam semua kehidupan etika, sosial, politik, dan fisik.
Pikiran orang-orang Arya berakal sehat di era ini, melalui studi mereka tentang Astronomi, Geologi, Arkeologi, Paleontologi, Etnologi, Etnografi, Sejarah, Tradisi, Kronologi, Dietetika, dan Kedokteran, dan dari pertimbangan rasa hormat, rasa takzim, rasa cinta, dan penghargaan alami kepada leluhur Arya mereka, orang-orang yang mengandung “Prinsip Pertama”, “Asal”, yang darinya mereka diturunkan dan hanya bisa diturunkan, sebab ayah menghasilkan yang serupa dengannya dan hanya yang serupa dengannya, pikiran orang-orang Arya ini telah dibebaskan dari peradaban orang-orang Semitik yang tak alami, tak rasional, dan suram, sebuah ras yang berbeda dari orang-orang Arya dalam hal organ pencernaan, perawakan, bentuk badan, roman, ekspresi muka, bahan otak, warna kulit dan mata, dan sifat dan warna rambut, peradaban yang telah mencampuri peradaban Arya begitu lama. Dalam segala hal kini orang-orang Arya memenuhi syarat untuk mengenali diri mereka sebagai ras manusia berbeda, dan untuk mengenali ketiga ras lain sebagai ras berbeda masing-masingnya; dan orang-orang Arya ada dalam posisi untuk membantu menempatkan setiap ras di ranah alaminya sendiri, di mana setiap ras bisa, tanpa gangguan ras-ras lain, membuat peradaban rasial (alami)-nya sendiri.
Bermaksud membantu alam dalam perbaikan rasnya sendiri, ras paling akhir, superior, terbaik, sempurna, spesies tertinggi dari genus manusia; ras yang memperbaiki dan menduduki zona dan negerinya sendiri dan hidup hanya dari pendapatannya sendiri, ras yang tidak hidup dari nafkah ras lain, tanpa sedikitpun prasangka atau perasaan benci kepada ras manapun, tapi demi kepentingan hakiki keempat ras: Jika penulis berhasil membuat pria-pria, wanita-wanita, dan anak-anak Arya berdarah murni di dunia, dari generasi masa kini dan datang, berkata minimal satu kali dalam hidup mereka, “Aku adalah seorang Arya,” penulis akan merasa susah-payahnya telah bermanfaat untuk ras (Arya)-nya, ras yang merupakan puncak peradaban dunia tertinggi di alam.
OH ORANG-ORANG ARYA! jangan menipu diri sendiri, atau jangan biarkan diri kalian tertipu, dalam menempatkan masing-masing ketiga ras lain di ranah rasialnya sendiri DI ALAM.
Peringatan: mengandung sentimen rasial.