Skip to content
Haruskah Amerika Mengakui Rusia? – Relift Media

Haruskah Amerika Mengakui Rusia? Bacaan non-fiksi politik

author _Jerome Davis_; date _1924_ genre _Politik_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Sejauh yang bisa kutemukan, dalam sepanjang sejarah kita, kita tak pernah menolak mengakui sebuah negara nasional besar yang telah mempertahankan diri terhadap semua rintangan selama lebih dari enam tahun dan telah diakui oleh Italia, Britania Raya, dan 18 bangsa lain. Dua puluh negara telah secara resmi mengakui peme­rintahan Soviet. Kekuatan terbesar adalah Britania Raya, yang teranyar adalah China; bahkan perdana menteri baru Prancis berjanji akan melakukan aksi ini. Amerika, sebuah produk revolusi, tetap terasing dari pemerintahan Rusia. Apa rintangan untuk persahabatan Rusia-Amerika? Pertama-tama, terdapat kebingungan mental tentang Ru­sia dan pemerintahan barunya. Kompleksitas masalah itu sendiri adalah bagian dari kesulitan. Rusia Tsaristik adalah sebuah negara raksasa yang dua kali lebih besar daripada seluruh Eropa, dengan populasi yang menuturkan seratus bahasa atau dialek berbeda. Pada periode revolusi, ia berubah secepat kilat. Kesaksian berlainan karena terdapat situasi berlainan dan kenyataan berlainan. Kemudian, juga, setiap orang Amerika memandang Rusia melalui warisan sosial dan bias kelas dalam pengalamannya sendiri. Menilai institusi-institusi Rusia berdasarkan konsep-konsep Amerika sama dengan menyalahgambarkan situasi. Terlebih, kita semua dilanda pemikiran kompartemen. Kita menempatkan Ame­rika di satu kotak mental dan Rusia di satu kotak lain. Jika seorang Menteri [Albert Bacon] Fall menerima $100.000 dalam sebuah kopor, itu hanyalah satu pejabat publik, tapi jika seorang Zinovieff membuat pidato menghasut, itu men­celakakan seluruh pemerintahan Rusia. Sekarang ini kita butuh fakta yang terpastikan secara ilmiah tapi kita justru dibanjiri misinformasi. Dr. Ross dari Universitas Wisconsin mendedikasikan sebuah buku, “Ke­pada saudara-saudaraku sesama orang Amerika yang telah jemu disuapi kebohongan dan propaganda tentang Rusia.” Kendati ada propaganda yang menguntungkan rezim Bolshe­vik, sebagian besarnya adalah dari para pemegang properti yang terampas hak miliknya dan para eks pejabat. Aman untuk dikatakan bahwa kaum Bolshevik menerima lebih banyak iklan gratis dalam jangka waktu lebih pendek dari­pada partai politik lain manapun sejak sejarah dunia dimu­lai, tapi itu sebagian besar palsu. Sekali sebuah kompleks anti-Bolshevik terbangun kokoh dalam pikiran publik, orang-orang Amerika menikmati prasangka mereka diman­faatkan. Karenanya, jadi menguntungkan untuk mengecer­kan setiap jenis fitnah tentang pemerintahan Bolshevik, mulai dari “propaganda merah mereka yang mematikan dan berbahaya” hingga cerita “nasionalisasi kaum wanita”. Ter­akhir, kita cenderung melihat pada permukaan situasi inter­nasional ketimbang menganalisa sebab-sebabnya. Setelah studi ilmiah demikian, kita takkan lagi siap menyalahkan kaum Bolshevik sesiap menyalahkan kondisi-kondisi yang menghasilkan mereka. Semua faktor yang disebutkan meng­arah pada tiadanya fakta tentang urusan Rusia. Alhasil, ini subjek yang sangat kontroversial; terdapat dua sisi. Karena sudutpandang-sudutpandang lain menghadirkan argumen biasa yang kontra Rusia, sekarang mari kita pertimbangkan satu sudutpandang lain. Rintangan kedua bagi persahabatan Rusia-Amerika ada­lah saling salah paham dan aksi tak bersahabat. Kaum Bol­shevik percaya bahwa kita sebagai bangsa kapitalistik lebih buruk daripada yang sebenarnya, dan para pejabat Amerika sempat percaya bahwa Lenin dan Trotsky adalah agen Jer­man, sebuah teori yang hari ini diakui sama sekali tidak be­nar. Aku pelanggan suratkabar Soviet, Izvestia, yang dicetak di Moskow. Dalam membacanya aku sangat terkesan oleh fakta bahwa penyalahgambaran Amerika olehnya tidak se­banyak penyalahgambaran Bolshevisme oleh pers kita. Efek kumulatif dari kesalahpahaman adalah kedua pihak mem­perlakukan satu sama lain dengan tidak hormat. Konsul Jenderal Amerika untuk Rusia, Tn. Summers, ber­kata padaku, “Jika kau bisa perhitungkan langkah terburuk dalam situasi Rusia, kau bisa percaya Sekutu akan meng­ambilnya.” Betapapun kita berselisih lebar, kita semua tak diragukan lagi sepakat dalam hal ini: bahwa Sekutu telah membuat kekeliruan yang tak bisa dibatalkan dalam kebi­jakan Rusia mereka. Jika, sebagaimana Presiden Wilson katakan, relasi Rusia adalah “batu ujian”, maka kita sudah mengambil ujian itu dan gagal. Untuk beberapa menit, mari tengok kembali apa yang sudah dilakukan kepada Rusia.

Perlakuan Sekutu Terhadap Rusia

Kaum Bolshevik mengambil alih kekuasaan 6,5 tahun lalu pada 7 November 1917. Ketika Jenderal Dukhonin dari angka­tan darat Rusia diperintahkan untuk menandatangani se­buah gencatan senjata terpisah, para Dubes Sekutu meminta­nya secara langsung agar tidak menuruti perintah pemerinta­hannya sendiri. Trotsky protes hebat, menyatakan agen-agen diplomatik dan militer Sekutu tidak boleh “mencampuri ke­hidupan internal negara kita dan mencoba mengipasi perang sipil”. Untuk beberapa lama wakil-wakil Amerika di Rusia memiliki hubungan bersahabat dengan para pejabat Bol­shevik, dan Lenin menawarkan untuk meneruskan perang melawan Jerman asalkan dia mendapatkan pertolongan Sekutu. Alih-alih menanggapi, pemerintahan Amerika men­jawab secara resmi kepada Jepang, “Nyatanya, tidak ada pemerintahan Rusia yang perlu diajak berurusan.” Bela­kangan kita mendapati kaum Bolshevik menemukan bahwa Konsul Amerika di Vladivostok rupanya telah dan sedang membantu pasukan-pasukan kontra-revolusi. Intervensi se­gera menjadi fakta tak terpungkiri. Kaum Bolshevik kemu­dian mencoba memenangkan tatanan ekonomi baru melalui seruan kepada pikiran dunia. Bangsa-bangsa kapitalistik menghadapi ini dengan hujan tembakan dan meriam dan kekerasan. Pada saat aku meninggalkan Rusia, tahun 1918, wakil-wakil Sekutu sedang berplot terhadap pemerintahan Bolshevik dan menyediakan uang dalam jumlah besar ke­pada orang-orang Rusia untuk tujuan itu. Setibanya di Archangel, aku berbincang hingga larut malam dengan seorang mata-mata Britania yang akan pergi ke Rusia, siap memajukan kontra-revolusi. Setelah perdamaian dengan Jerman ditandatangani, kita masih mendapati Sekutu men­dukung laskar-laskar kontra-revolusi yang semuanya dika­lahkan oleh pemerintahan Bolshevik. Ingat kembali sejarah situasi itu sebentar: ada serangan dari utara dengan tentara Amerika dan Sekutu; dari timur dengan tentara Amerika, Jepang, dan Cekoslovakia; dari selatan oleh [Pyotr] Wrangel dengan pertolongan Sekutu, dari barat oleh [Nikolai] Yude­nich dengan pertolongan Sekutu; dan dari Polandia dengan bayonet Prancis. Dan sesudah Gencatan Senjata, terdapat blokade Rusia. Sudah pasti, Wakil Menteri Urusan Luar Negeri Britania me­nyatakan di Dewan Rakyat, “Tak ada blokade yang telah di­deklarasikan atau sedang dijalankan terhadap wilayah Rusia manapun.” Sekutu hanya mengundang pemerintahan Swe­dia, Norwegia, Denmark, Belanda, Finlandia, Spanyol, Swiss, Meksiko, Chile, Argentina, Kolombia, Venezuela, dan Jerman untuk menggunakan
“tekanan ekonomi; untuk tidak memberikan surat izin kepada setiap kapal yang pergi ke pelabuhan-pelabuhan Rusia yang dikuasai kaum Bolshevik atau yang datang dari pelabuhan-pelabuhan tersebut; untuk mengambil langkah-langkah serupa untuk semua barang dagangan yang hendak dikirim ke Rusia Bolshevik melalui rute lain manapun; untuk tidak memberikan paspor kepada semua orang yang pergi ke Rusia Bolshevik atau datang darinya, kecuali melalui kesepahaman dengan pemerin­tahan Sekutu dan Terkait; untuk meminta setiap peme­rintah tidak memberikan fasilitas kepada warganya sen­diri untuk berkorespondensi dengan Rusia Bolshevik melalui pos, telegraf, atau nirkabel.”
Sementara itu,
“kapal-kapal perang Britania dan Prancis di Teluk Finlan­dia akan terus mengubah rute kapal-kapal yang menuju pelabuhan-pelabuhan Rusia Bolshevik.”
Setelah Traktat Versailles ditandatangani dan blokade terhadap Jerman dicabut, blokade Rusia dibuat lebih ketat daripada sebelumnya. Pada Agustus 1919, sebuah Kongres Pekerja Logam Swedia menuntut perdagangan dengan Rusia. Menteri Luar Negeri menjawab bahwa jika Swedia sampai mengupayakan ini, itu akan berarti perang dengan Entente. Meski AS tidak bergabung resmi dalam blokade ini, kapal Amerika tidak diizinkan pergi ke Rusia karena khawatir “komplikasi internasional”. Pada musim dingin 1919, Pemerintah Soviet membeli benih di Denmark senilai 40 juta rubel. Sekutu memblokir pengirimannya. Di tahun yang sama, sebuah kapal bermua­tan pasokan medis yang dibeli oleh pemerintah Rusia di Skandinavia disita oleh angkatan laut Britania. Dan akibat­nya orang-orang Rusia mati. Di Dewan Rakyat Britania, di­tanyakan apakah penderitaan dahsyat yang ditimbulkan di Rusia oleh blokade ini diketahui; jawabannya adalah bahwa “kecuali jika itu menyebabkan kemelaratan, tidak akan ada gunanya melakukan itu”.
Judul asli : Should America Recognize Russia?<i=19zuMmmyct2FC34fwOZkfjGos1FfdVAf_ 522KB>Should America Recognize Russia?
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Maret 2025
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Haruskah Amerika Mengakui Rusia?

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2025)