Skip to content
Apakah Rusia Mewakili Peradaban Arya? – Relift Media

Apakah Rusia Mewakili Peradaban Arya? Bacaan non-fiksi politik

author _Karl Blind_; date _1904_ genre _Politik_; category _Esai_; type _Nonfiksi_ Ia tetap di bawah kuk Gerombolan Emas selama hampir 250 tahun. Secara politik, dan sebagian bahkan secara rasial, populasi-populasi dataran besar itu, yang di timur dan tenggara Rusia Eropa tetap Tatar bahkan sebelum serbuan gelombang dahsyat Mongol ini, sekarang menjadi dua kali lipat ter-Mongolisasi. Dengan maksud mengecoh Eropa, para negarawan Ru­sia mencoba mengangkat momok “Bahaya Kuning” dalam berurusan dengan Jepang. Tapi, kesuksesan pertama Jepang di laut dirayakan dengan gembira, hingga ke AS, oleh para emigran Polandia yang tergolong ras kulit putih—dan lebih kulit putih daripada banyak orang Moskow sendiri? Orang-orang Polandia di Rusia, selain berbagai kebang­saan lain di dalam Kekaisaran Tsar yang tumbuh terlalu besar, pasti akan menunjukkan tanda-tanda sukacita serupa, andai mereka tidak melihat kengerian Siberia, Blagovesh­chensk, dan Kischinev dalam mata pikiran mereka. Pada saat pecahnya perang, ketika mereka membaca dalam Novoe Vremya pengakuan sinis bahwa “Rusia, dalam memulai dan melanjutkan negosiasi dengan Jepang, hanya memikirkan satu tujuan jelas, yakni mengulur waktu dan memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan angkatan darat dan armada­nya”, perasaan orang Polandia, orang Finlandia, orang Arme­nia, penduduk Provinsi-provinsi Baltik, dan populasi ter­tindas lain, mudah dibayangkan. Benar bahwa armada dan angkatan darat sang calon agresor tidak siap ketika Jepang akhirnya melakukan serangan untuk bertahan. Despotisme, sebagaimana seringnya, memiliki pelayan-pelayan yang tak efisien atau tak setia. Di bawah keadaan ini, didorong keras oleh isu-isu per­tama bentrokan bersenjata yang hendak ditundanya bebe­rapa saat, diplomasi Moskow berjerih-payah untuk memper­oleh simpati dengan mengemban peran “Pembela Ras Arya”. Di Prancis, di mana ada begitu banyak pemegang obligasi Rusia, mudah ditemukan pena-pena untuk memuji-muji [ide] “Bahaya Kuning” dan menjelek-jelekkan “Pan-Mongolisme” Kerajaan Matahari Terbit. Upaya para penulis itu ditopang dengan agak canggung oleh argumen yang tidak terlalu cakap dan agak ganjil dari seorang pengekor terkemuka kebijakan Rusia. Dia menyata­kan Manchuria harus tetap dikuasai oleh Rusia, dan teritori Mongol yang lebih jauh lagi harus dianeksasi/dicaplok ke dalamnya, sebab Rusia sendiri sudah memiliki begitu banyak suku-suku Mongol—dengan kata lain kekerabatan kuning! Itu argumen yang sudah kita dengar sebelumnya. Itu diguna­kan pada kejadian serbuan bangsa Cossack ke Afghanistan, di tahun 1886, ketika sedikit teritori sang Emir dirobek dan ditambahkan pada Kekaisaran sang Tsar. Dalih Rusia pada waktu itu adalah bahwa orang-orang Turkoman yang men­diami sebagian Afghanistan berasal dari ras yang sama dengan orang-orang Turkoman yang Rusia sudah taklukkan di Kekhanan tetangga. Karenanya orang-orang Turkoman Afghan juga harus dikuasai! Siapa bisa katakan, jika permainan etnologis ini terus berlanjut, apa batas-batasnya? Itu sebenarnya dalih untuk domini universal Rusia di Asia. Namun, si penulis aneksasionis Rusia yang disinggung tadi sungguh benar dalam bersumpah bahwa ada banyak Mongolisme di Rusia sendiri. Dalam berkata begitu, dia tanpa sadar membuka dua rahasia. Para etnolog tahu betul bahwa pernyataannya benar dalam pengertian lebih besar lagi daripada yang dia hendak sampaikan. Para penulis Polandia tentang ras, semisal Duchinski, sering memprotes klaim Pemerintahan St. Petersburg se­bagai sebuah Kekuatan Slavia dan karenanya berhak me­ngemban kepemimpinan atas berbagai bangsa Slavia di luar domini-domini sang Otokrat. Orang-orang Polandia me­ngatakan—dan pernyataan mereka tidak bisa disangkal se­cara historis—bahwa, ketika Kerajaan Rusia didirikan pada abad 9 dengan menaklukkan klan Varangia Skandinavia dan prajurit-prajurit Jermanik lain (orang Swedia, orang Nor­wegia, orang Angle, dan orang Goth), di bawah Rurik (Rode­rick), dataran besar itu sebagian besar dihuni di utara oleh suku-suku Ugrik, Finlandia, dan Tatar, yang berkerabat dengan leluhur Turani atau Mongol. Hanya di sana-sini, di arah barat, beberapa suku Slavia eksis. Slavonisasi bahasa elemen rasial non-Arya itu berlangsung pelan-pelan saja dalam berabad-abad. Bertahun-tahun lampau, ketika sebuah persengketaan sengit mengamuk antara orang Polandia dan para Panslavis Moskow, aku menerima surat lima belas halaman dari Duchinski yang ditulis teliti, di mana dia berpendapat sekuat tenaga menentang hegemoni Rusia atas orang-orang Slavia. Di masa ini, penulis Prancis, Delamarre, menyokongnya de­ngan tulisan-tulisannya sendiri. Semua ini anehnya sekarang dilupakan—terutama di Prancis, di mana ada begitu banyak pemuja aliansi aneh antara topi Frigia dan knout. Secara historis, tak jauh di timur Moskow tinggal sebuah kaum berasal-usul non-Arya dan berbahasa non-Slavia se­lama ratusan tahun setelah pendirian Kerajaan Rusia. Catha­rine II, dalam sebuah ukaze terkenal, mengakui fakta bahwa para penghuni Moskow riil adalah keturunan yang berbeda dari orang-orang Rusia. Nama Rusia sendiri, aku boleh tam­bahkan, jelas-jelas terbukti diberikan kepada negara itu oleh orang-orang Varangia Jerman penakluk. Itu bukan kata Sla­via, tapi kata Jermanik Nordik. Itu diterapkan pada negara tersebut sebagaimana Gaul dinamakan Frankland (atau Pran­cis) oleh suku Teutonik penakluk bernama tersebut. Ketika orang-orang Varangia mendirikan Kerajaan Rusia di abad 9, sebuah bangsa Turki, yaitu Khazar, memiliki ke­kaisaran mereka sendiri di daerah yang kini berupa Rusia selatan. Berasal-usul Mongol, mereka mengadopsi sebagian kredo Islam, sebagian kredo Yahudi, dan memiliki banyak kota maju dengan kultur Bizantium. Bangsa Turki ini ber­angsur-angsur digulingkan oleh orang-orang Varangia dan rombongan Finlandia-Slavia mereka. Akan tetapi, darah orang-orang Khazar menjadi tercampur dengan darah pe­nakluk mereka. Jadi di sini lagi-lagi kita mendapati elemen Tatar tertambahkan pada populasi kuno non-Arya, yaitu Finlandia, di Rusia.
Judul asli : Does Russia Represent Aryan Civilization?<i=1UW4gSLBUdWKGZef3XlCbOc56F6j3jMoG 307KB>Does Russia Represent Aryan Civilization?
Pengarang :
Penerbit : Relift Media, Maret 2025
Genre :
Kategori : ,

Unduh

  • Unduh

    Apakah Rusia Mewakili Peradaban Arya?

  • Koleksi

    Koleksi Sastra Klasik (2025)