“Sejarah tidak memihak pengaruh-pengaruh agama yang memurnikan politik. Menurut penilaianku, agama tidak memiliki pengaruh pemurnian, di dalam atau di luar politik. Jika bangsa ini, dengan menyatakan sebagai Kristiani, tidak akan lebih jujur daripada mayoritas kalian orang Kristiani, tidak akan ada banyak harapan untuk negara ini.”
Presiden Konvensi: “Kita bertemu lagi untuk membahas persoalan besar yaitu mengakui Tuhan. Waktu!”
Pendeta: “Partai-partai politik besar yang menjadi sarana untuk memilih pejabat publik tak lagi mengakui kewenangan hukum moralnya Tuhan dalam skema dan pergumulan mereka untuk mengalahkan dan menggantikan satu sama lain. Seluruh antarkerja partai-partai ini menjadi satu mesin korupsi raksasa, yang sasaran besarnya adalah barang rampasan jabatan dan barang jarahan. Ini adalah konsekuensi alami dan logis dari pemisahan politik dari pengaruh-pengaruh agama; begitulah fakta masyhur (kecuali beberapa pengecualian mencolok) di negara ini pada saat ini. Apa kata-kata yang bisa cukup mencirikan korupsi politik tak tahu malu, bertumpuk, dan senantiasa bertambah itu, yang menantang semua umpatan dan semua kekangan, yang kini menimpa bangsa ini; dan yang pasti akan meruntuhkan dan menggulingkan institusi-institusi bebas kita dan pasti akan berlanjut? Tapi ini pun bukan yang terburuk. Di sebuah negara bebas seperti ini, politik masuk jauh lebih dalam dan lebih luas daripada di tempat lain ke dalam kehidupan seluruh masyarakat, sehingga hampir setiap orang menjadi politisi—dengan begini seluruh masyarakat menjadi terdemoralisasi dan terkorupsi.
“Untuk melawan secara efektif korupsi politik yang senantiasa bertambah, dan semua konsekuensinya yang merusak, bukankah kita harus mengakui Tuhan dan hukum moral-Nya sebagai memiliki kewenangan tertinggi dalam Konstitusi nasional? Bukankah kecenderungan alami dari pengakuan terbuka dan khidmat tersebut adalah menghadirkan orang-orang yang bersimpati pada hukum itu di dalam administrasi pemerintahan dan dalam semua urusan nasional kita, dan dengan begitu memurnikan seluruh ranah luas kehidupan politik di negara ini? Dan bukankah jelas bahwa sesuatu yang berbeda dari dan lebih efektif daripada pengaruh-pengaruh yang selama ini bekerja harus dicoba, atau kita pada akhirnya harus binasa sebagai sebuah bangsa akibat korupsi politik?
“Apa yang kau pahami dengan ‘agama politis’? Apakah ada yang sok mengatakan kita menjadi lebih buruk karena sebuah agama kecil? Bahkan sebuah agama yang sangat kecil adalah sebuah kebaikan sangat besar untuk manusia. Bahkan Kaum Pagan mengakui bahwa takut kepada dewa-dewa adalah fondasi persemakmuran mereka. Bangsa ini tidak bisa eksis tanpa agama. Ia harus mengakui penyembahan Tuhan dalam rangka menjamin kepentingan masyarakat.”
Liberalis: “Korupsi-korupsi politik cukup buruk; tapi jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa itu, di mana agama dan negara disatukan, politik Amerika semurni tetesan hujan yang turun dari langit. Kaum pendeta dan kaum bangsawan, dalam mayoritas kasus, bersatu untuk menjarah masyarakat. Sejarah tidak memihak pengaruh-pengaruh agama yang memurnikan politik. Menurut penilaianku, agama tidak memiliki pengaruh pemurnian, di dalam atau di luar politik. Jika bangsa ini, dengan menyatakan sebagai Kristiani, tidak akan lebih jujur daripada mayoritas kalian orang Kristiani, tidak akan ada banyak harapan untuk negara ini.”
Kristiani Anti-Amandemen Keagamaan: “Agama adalah sebuah bentuk penyembahan, dan ketika kita mengakui hak untuk melarang atas dasar agama Kristen, kita harus mengizinkan si Universalis untuk datang dan bersumpah demi Tuhannya dan agamanya, si Unitarian demi Tuhannya dan agamanya, para Metodis dan Baptis dan Presbiterian dan Moravian dan Mormon demi Agama-agama mereka dan Tuhan-tuhan mereka (sebab mereka semua menyembah Tuhan-tuhan berbeda, atau satu Tuhan yang mengajarkan doktrin-doktrin berbeda), dan orang-orang Katolik demi agama mereka dan Tuhan mereka, atau kau harus tiadakan semuanya kecuali satu, dan agar konsisten, yang satu itu harus sempurna, dan semua sisanya adalah ‘ahli bid’ah’, dan ajaran-ajaran mereka adalah ‘bid’ah-bid’ah terkutuk’. Dengan begini ada bani Israel atau kaum Yahudi, yang Mesiasnya belum datang, dan yang Tuhannya belum mempersembahkan Putera Tunggal-Nya sebagai kurban hidup untuk pengampunan dosa-dosa. Apa yang akan kita lakukan kepada mereka ini—orang-orang pilihan Tuhan? Haruskah kita izinkan mereka bersumpah demi Tuhan mereka sendiri, atau haruskah mereka bersumpah demi Tuhan kita? dan Tuhan seperti apa tuhan kita? Haruskah dia seperti yang disembah oleh masyarakat kita di Utara dan Selatan beberapa tahun silam, dalam darah, api, dan lidah api, pertikaian internal, pembunuhan, perampokan, dan perang?
“Tapi anggap saja kita bersepakat pada jenis suatu agama dan atribut-atribut Tuhan yang dengan-Nya kita bersumpah, apakah sumpah itu akan lebih baik? Jiwa yang bersumpah palsu di bawah bentuk Konstitusi saat ini akan dengan gembira mematuhi semua bentuk dan larangan, dan akan dengan munafik membungkuk di depan sepuluh ribu dewa dan agama, demi melakukan sumpah palsu dan menyakiti sesama manusia. Kita sudah punya terlalu banyak kemunafikan tanpa menambahinya bonus.
“Kita tidak bisa ‘melawan secara efektif korupsi politik yang senantiasa bertambah, dan semua konsekuensinya yang merusak’ dengan sekadar ‘mengakui Tuhan dalam Konstitusi’. Ambil contoh para pemimpin partai seperti sekarang, dan kau mendapati yang paling keji di antara para penipu politik dan para pemimpin partai korup adalah para penganut agama yang telah mencemari gereja, menistakan Tuhan Maha Kuasa, dan menodai agama Kristen dengan menggunakannya sebagai jubah untuk menyembunyikan perbuatan jahanam mereka. Agama sejati tidak boleh dipersalahkan atas ini. Lantas apa? Kau boleh bicara tentang ‘Tuhan dan hukum moral-Nya’, dari Hades hingga Kebangkitan, dan kau tak pernah bisa menghentikan korupsi politik atau ‘memurnikan seluruh ranah kehidupan politik yang luas di negeri ini’, kecuali dengan mendidik generasi muda secara lebih rasional.
“Jika orang-orang dididik untuk mengatakan kebenaran, mereka takkan pernah lalai untuk bersumpah atas kebenaran, kebenaran penuh, dan tidak ada yang lain kecuali kebenaran, tak peduli apakah mereka melihat nama Tuhan dalam Konstitusi atau tidak.”
Pendeta: “Amandemen Konstitusi yang kami usulkan tidak akan sedikitpun mempengaruhi hubungan berbagai sekte Kristen dengan satu sama lain atau dengan pemerintah. Itu akan membiarkan mereka semua dalam hal ini, persis seperti sekarang; namun, menempatkan mereka semua di tempat tinggi yang menguntungkan untuk realisasi sasaran bersama agama Kristen, di mana mereka semua sependapat. Oleh karenanya, itu adalah sebuah tujuan di mana semua Kristiani sungguhan dan KTP, dengan kata lain mayoritas besar warga AS, bisa bersatu sepenuh hati tanpa kedengkian atau ketakutan sektarian. Ini dengan sendirinya adalah poin sangat penting dan penuh harapan dalam gerakan ini, dan poin yang hampir pasti menjamin kesuksesan akhirnya. Karena sebagian orang tidak beriman pada Yesus, haruskah mereka mengingkari hak kita untuk mengakui-Nya?”