Jiwa-jiwa polos tentu saja masih menganggap redaktur disandangi kekuatan-kekuatan ilahi, dan surat-surat perkenalan kepadanya masih diusahakan oleh pemula yang percaya takhayul. Celaka! probabilitasnya adalah semakin baik dia berpikir tentang naskahmu, semakin kecil kemungkinannya itu diterima.
Kata “redaktur” yang diterapkan pada pemimpin majalah dan suratkabar sedang cepat menjadi sebutan penghormatan belaka; sebab wewenang dan fungsi yang tadinya dijalankan oleh para redaktur, sepantasnya disebut demikian, sedang kian dirampas oleh para pemilik kapitalis. Tidak sedikit majalah di mana “redaktur” hampir tidak lebih berhak bicara dalam penerimaan sebuah naskah dibanding kontributor yang mengirimnya. Tinggal sedikit redaktur yang menegakkan marwah dan pesona kewenangan yang biasa tertanam pada nama redaktur. Mereka ini bertahan semata-mata berkat prestise pengabdian panjang, dan mereka pun tidak selalu bebas dari gangguan metode baru. Pemilik masih merasakan keterpaksaan menjengkelkan untuk memperlakukan kebijakan redaksi mereka dengan hormat, meski diam-diam tak sabar akan momen ketika mereka akan memberi tempat untuk alat-alat modern dan lebih dapat diatur.
Nyatanya, redaktur “baru” sedikit lebih dari seorang pegawai yang melakukan perintah pemiliknya, dan ide sang pemilik tentang peredaksian adalah membungkuk-bungkuk membudak kepada selera publik—atau lebih tepatnya kepada konsepsi mentah si pemilik tentang selera publik. Satu-satunya redaktur nyata hari ini adalah kapitalis dan publik. Redaktur KTP hanyalah seorang
office-boy dengan pertumbuhan lebih besar dan gaji sedikit lebih besar.
Jiwa-jiwa polos tentu saja masih menganggap redaktur disandangi kekuatan-kekuatan ilahi, dan surat-surat perkenalan kepadanya masih diusahakan oleh pemula yang percaya takhayul. Celaka! probabilitasnya adalah semakin baik dia berpikir tentang naskahmu, semakin kecil kemungkinannya itu diterima oleh sang pemilik; sebab Tn. Snooks, sang pemilik, sudah memutuskan seleranya sendiri, dan tidak selera terhadap apa saja yang berbau “kesusastraan” sedikitpun. Aksioma editorial luasnya adalah bahwa majalah populer mesti segala hal dan apa saja kecuali “sastra”. Terhadap tanda-tanda noda kesusastraan, dia terus membuka mata tegang dan waspada, dan “redaktur” atau “asisten redaktur” (sebagai pembedaan tanpa perbedaan), yang dia curigai berkecenderungan sastra, langsung ditolak. Tn. Snook sendiri jarang sekali menjadi pembaca. Aktivitasnya semata-mata finansial, dan dia hanyut ke dalam bisnis majalah sebagaimana dia dapat hanyut ke dalam [bisnis] babi atau teater—karena alasan finansial murni. Kebutuhan sastranya dibatasi di utara oleh cerita detektif, dan di selatan oleh sebuah artikel sains. Baginya, para master sastra kawakan sama bodohnya baginya para master lukisan kawakan. Singkatnya, dia cuma orang awam jahil dengan uang yang diinvestasikan pada majalah; dan siapa yang akan menyalahkannya jika dia berjalan di atas prinsip bahwa yang membayar yang menentukan. Ketika dia memulai, dia tak jarang memulai dengan mempercayakan majalahnya kepada seorang pemuda dengan bakat dan ambisi editorial nyata untuk membuat hal yang benar-benar bagus. Pemuda ini mengumpulkan sekelompok jiwa yang sama, dan akibatnya, sesudah penerbitan edisi kedua, Tn. Snooks memutuskan meredaksi sendiri majalahnya, dengan bantuan seorang sekretaris dan segelintir pengetik. Pemuda-pemuda cemerlangnya sama sekali tidak mengerti “apa yang publik mau”. Mereka terlalu berkelas tinggi, terlalu “kesusastraan”. Apa yang publik mau adalah cerita pendek dan gambar para aktris; dan cerita pendek, seperti halnya para aktris, tidak boleh lebih baik daripada semestinya. Bahkan cerita pendek, ketika itu adalah mahakarya, bukanlah “apa yang publik mau”. Jadi para pemuda cemerlang itu pergi ke kegelapan luar, dengan sedih mencari pekerjaan baru, dan edisi ketiga
Snooks’s Monthly jatuh sejajar dengan tumpukan majalah-majalah bulanan yang tak bisa dibedakan, bahkan hanya bisa dibedakan menurut nama-nama merdu pemilik mereka.